Archive for February 20th, 2008

h1

H+1 after (the so called) valentine’s day

February 20, 2008

“Far too many emotion that taint my soul before my faith
and often I drown in the moment when in the end they all…
Ephemera…”
(Letto, Ephemera, Don’t make me sad)

WARNING!!!
Tulisan ini bukannya bermaksud memperpanjang masalah (karena jelas-jelas masalahnya udah diselesaikan secara baik-baik), cuma lagi pengen mencari sesuatu yang bermanfaat dari masalah ini.

Emang, emosi sesaat itu ga ada gunanya, yang ada cuma bikin susah. Sejak beberapa hari yang lalu gw jadi lebih bisa menghayati lagu yang gw kutip di atas, setelah menyaksikan bukti dari betapa banyak kerugian yang kita bisa terima kalau terhanyut dalam emosi sesaat.
Jumat 15 Februari 2008 yang lalu terjadi suatu peristiwa yang menghebohkan banyak orang (di labtek V). Alkisah tersebutlah sebuah blog, milik salah seorang mahasiswa ITB non-Informatika. Si pemilik blog ini, entah sengaja atau tidak, pada hari yang telah disebutkan me-posting tulisan yang merupakan limpahan kekesalannya terhadap seorang rekan gw di informatika. Sayangnya (mungkin karena terlalu emosi, atau terlalu bersemangat?), tulisan tersebut tanpa disadari malah menyinggung kita semua, bukannya satu orang yang menjadi objek kekesalan si pemilik blog ini. Nah, begitu mengetahui mengenai tulisan ini, sebagian dari kita merasa kesal dan tersinggung. Alhasil mereka ramai-ramai memberi comment pada tulisan tersebut. Apa tepatnya komentar dari mereka gw ga tau, karena begitu gw mengunjungi blog tersebut ternyata posting tersebut sudah menghilang dari peredaran. Biasa, ketinggalan berita :-P
Inti ceritanya sih, suatu masalah kecil yang berawal dari kekesalan pribadi si pemilik blog kepada rekan gw itu berubah menjadi masalah yang jauh lebih besar dengan melibatkan mahasiswa informatika secara umum yang tadinya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah itu.
Dengan demikian, penyelesaian masalah pun jadi sedikit lebih rumit. Perwakilan kelompok yang terlibat berbincang-bincang dengan si pemilik blog. Akhirnya masalah ini terselesaikan melalui permintaan maaf si pemilik blog, dan kelompok tersebut pun telah menerima permintaan maaf tersebut (semoga ga ada yang masih ga enak hati nih).
Sekarang mari kita berandai-andai…
Jika saja si pemilik blog tidak terbawa emosi dan posting tulisan kontroversial tersebut di blognya (dimana didalam tulisan tersebut terdapat aksi men-generalisir masalah), ga bakal ada keributan seperti ini.
Dan seandainya, kita lebih bisa mengendalikan nada bicara, ga bakal ada orang yang terpancing emosinya seperti si pemilik blog tadi sampai dia akhirnyamengungkapkan kekesalannya melalui cara yang kurang bijak.
Semuanya berakar pada kontrol emosi… Kenapa sih mengontrol emosi itu menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan?

“Far too many emotion
That taint my soul
Before my faith
And often i drown in the moment
Where every path i take seem
The only on the right direction ..

So, I’m growing old but life doesn’t seem as pretty
with sometimes life as not an endless sea
(blue as the sea, blue as the sky)
everywhere I look, everywhere I turn
everytime I grow and everytime I burn
I should not mind to mourn
Sometimes it’s just ephemera…”